Balada ‘si sampah’

Saya ini bukan apa-apa, maka pengalaman pertama yang bisa kutuangkan di sini juga harus berawal dari permenungan pribadi akan sampah. Salah satu yang tidak disenangi manusia adalah SAMPAH. Orang biasanya menghindari pekerjaan yang berhubungan dengan sampah. Bahkan orang memandang rendah orang yang berkerja dengan sampah.

Saya pernah bertanya diri, seandainya sampah bisa berbicara, apakah yang akan ‘mereka’ katakan kepada orang yang berusaha menghindar dari pekerjaan menghindarkan sampah? Mungkin mereka akan berkata ‘saya juga tak ingin menjadi sampah’. Atau mengatakan, ‘saya tak pernah diciptakan semata-mata hanya untuk menjadi sampah’.Ya, tiada satupun yang pernah dikodratkan menjadi sampah (apalagi manusia yang lebih dikenal dengan istilah sampah masyarakat). Segala sesuatu yang dinyatakan menjadi sampah oleh manusia pasti (sebelumnya) pernah menjadi bukan sampah. Telah ada saat dimana sampah itu sangat berguna, bahkan dicari orang. Pembungkus makanan, kaleng atau botol minuman telah pernah sangat berjasa menjaga makanan tetap bersih dan sehat bagi manusia. Kulit buah-buahan telah sangat berjasa dalam proses pertumbuhan dan pematangan si buah dan bahkan memberi informasi kepada manusia (walau bukan merupakan satu-satunya indikasi) kapan buah itu layak untuk dikonsumsi. Plastik belanja telah berjasa menyelamatkan barang belanjaan tiba di tujuan, bahkan di banyak negara Eropa orang harus membayar untuk plastik tersebut.

Bunga yang sudah layu telah pernah memberi keindahan dan menciptakan suasana nyaman di ruangan atau tempat tertentu. Sebelum daun kering jatuh berserakan di tanah dan kemudian dibakar, itu telah terlebih dahulu memberi keindahan di pohonnya, memberi tempat untuk hidup bagi makhluk lain. Onggokan kertas yang siap untuk dibakar atau yang terbuang begitu saja tak diperhatikan orang, telah pernah menjadi teramat penting. Pakaian dan sepatu yang rusak telah pernah menjadi pilihan pemiliknya yang dengan bangga memakainya ke tempat terhormat, sekaligus menjaga sang pemilik tersebut dari aneka kemungkian buruk. Bahkan rongsokan elektronik dan logam lainnya telah pernah mengabdi para penggunanya dan mendapat tempat terhormat di hati mereka.

Namun, ketika masa bakti mereka berakhir, segalanya lenyap. Mereka dipindah tempatkan dari tempat semula, dan dengan bahasa tak berkata dinyatakan sebagai ‘sampah’ yang perlu disingkirkan untuk kemudian dilenyapkan. Kalau tidak, peran yang semula sangat berguna, akan justru berbalik menjadi sumber celaka. Bukankah penyakit banyak muncul hanya gara-gara sampah yang tak tertangani dengan baik? Bahkan longsoran timbunan sampah juga bisa merenggut nyawa manusia.

Orang berusaha mengorganisir pembuangan sampah, bahkan pemerintah harus membentuk badan yang khusus untuk itu. Namun, betapa sampah-sampah akan lebih berarti kalau itu didaur ulang (tentu sejauh memungkinkan) dan bisa dimanfaatkan kembali semaksimal mungkin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: